Barongan Dalam Nagarakartagama

(foto: ilustrasi/dok)
Tak bisa dipungkiri, barongan menempati nomor wahid dalam hal banyaknya jumlah grup kesenian tersebut, maupun kemampuannya merebut perhatian penonton dari usia kanak-kanak sampai dewasa, khususnya di Blora sampai saat ini.
Sungguhpun demikian, sejarah dan asal-usul barongan masih simpang siur. Bisa jadi kesimpang-siuran ini karena para pelaku maupun pemerhati barongan belum menemukan rujukan yang kuat tentang keberadaan barongan di masa lampau.

Serat Centhini yang menurut banyak ahli adalah ensiklopedi jawa abad 18, ternyata hanya menyinggung sekilas sebagaimana terdapat pada pupuh 31, dengan metrum Sinom.

jata moelat raré dolan

bèngkat bikir tjirak oembris

kang bentik samja gèndongan

goemeder wenèh anangis

mjat tanggapan salirning

ambebarang gambang tjaloeng

topèng lènggèr barongan

wajang bèbèr mjang karoetjil

trebang ména miwah barang oera-oera



Pada pupuh di atas, kata Barongan disebut tanpa adanya penjelasan lebih lanjut, sehingga praktis tidak bisa diuraikan karena hanya disebutkan bersandingan dengan pertunjukan kesenian pedesaan lainnya.
Frasa Barongan dalan Nagarakartagama

Dalam literaur yang lebih tua, yaitu Nagarakartagama yang ditulis abad 14 oleh Mpu Prapanca, ternyata ada beberapa frasa, yang merupakan informasi penting paling awal, tentang bentuk dan bagaimana Singa-Barong (Barongan) ditampilkan pada saat itu.

Dijelaskan pada pupuh 86, ayat 1:

akara rwang dina muwah ikang karyya kewwan narendrawawwan lor ning pura têgal anama ng Bubat kaprakasaSri-nathangkën mara makahawan sthana singhapadudwan sabhrëtyanorakën idëran atyadbhuta ng wwang manonton.

Terjemah frasa tersebut menurut Dr. Piegaud, adalah: Dua hari kemudian terdapat upacara meriah, dimana raja harus menjadi perwira, ia harus mengunjungi tempat lapang bernama Bubat yang terkenal, di sebelah utara kraton. Ia selalu pergi ke sana, melalui jalan dimana singa berkelahi, menjatuhkan, berputar mengelilingi raksasa, ramai dilihat penonton.

Singa pada bait tersebut tampaknya bukan singa sungguhan yang sengaja didatangkan jauh dari dataran lain, karena singa bukan hewan asli di Asia Selatan atau di Kepulauan Nusantara. Yang paling mungkin adalah bahwa singa harus dipahami sebagai singa-barong, yaitu sekumpulan topeng raksasa pembuka prosesi acara kerajaan. Pertunjukan semacam ini, sebagaimana pembukaan arak-arakan di pedesaan, masih menjadi umum dilakukan sampai saat ini.
Kapan pertunjukan itu dilaksanakan?

Pada pupuh 83, bait 5 terbaca adanya pesta tahunan kerajaan, yang diadakan di ibukota Majapahit, di Istana Prabu Hayamwuruk, pada bulan Palguna (Kawolu, Februari-Maret) dan Cétra (Kasanga, Maret-April) dan di bulan perdagangan atau Hapit, dimana bulan-bulan ini menempati peran yang cukup penting pada kalender pertanian (pranatamangsa).

Sehingga kemungkinan besar waktu perayaan festival yang dijelaskan dalam pupuh 83 hingga 91 dari Nagarakertagama, juga terkait dengan bulan ini, atau dengan laju perahu perdagangan dengan negara-negara di luar istana, yang digerakkan oleh arah angin muson.

Lebih lanjut Mpu Prapanca menyebutkan – yang perhatiannya tidak melulu tertuju pada keluarga raja dan pemuka agama – bahwa di bulan Palguna terdapat banyak acara hiburan di pasar Majapait.

 Dalam pupuh 83, bait 6:

Tingkah ning puja n-idran bhrisadi saha – mrdanggenarak ning wwang akwèh –  ping pitw angkën dinembuh sasiki –  saha    niwedya n-dunung ring wanguntur.

Terjemahnya adalah: pada upacara keagamaan terdapat acara orang-orang mengarak brisadi dengan merdangga (alat musik), dipimpin oleh orang tujuh kali, satu setiap hari (kali) lebih banyak (dari hari sebelumnya), juga dengan acara persembahan, bertemu di tempat Wanguntur (Sitinggil).

Prof. Kern mencatat: Arti kata brisadi/bhrisadi berarti totem raksasa (bentuk/patung yang disakralkan) yang mewakili beberapa makhluk mitos.

Jika perkiraan Prof. Kern ini benar, maka akan ada totem barongan besar dalam acara ini, dan di sini dapat dibayangkan sebagai sebuah wujud seperti raksasa, yang memang masuk dalam prosesi acara.

Kosa kata prisadi muncul dalam frasa lain Nagarakertagama, pada pupuh 64, bait 1, dimana dapat dibaca sebagai bentuk persiapan untuk upacara besar Sradha (pengorbanan, keselamatan jiwa yang lebih baik):

ngkane madhya witana Sobhita rinëngga lwir prisadya ruhur.

Dapat diterjemahkan :

Ada witana yang indah di tengah (sebuah bangunan terbuka dan sementara), dihiasi seperti prisadi luhur.

Mengikuti daftar Istilah Jawa Kuno – Belanda, menghubungkan bhrisadi dengan pusadi, sebuah kata yang menunjukkan tempat duduk yang ditinggikan yang digunakan di perayaan, atau mungkin semacam tribun.

Dengan pemaknaan sebagaimana terjelaskan di atas, jelas sekali perang-perangan antara singa barong dan raksasa (gendruwon) telah dipertunjukkan di perayaan Cétra, sebagai kelanjutan dari pesta di bulan Palguna dan berlokasi di lapangan Bubat. Pertunjukan ini sudah ada sejak abad 14 sebagaimana dipersaksikan Mpu Prapanca.

Tentang Penulis:
Totok Supriyanto dan Dalhar Muhammadun merupakan tim Indonesiana 2019 Cerita Dari Blora