Cerpen : "Tarian Tengah Malam Itu"

Ledhek barangan pasar pon Blora, event CDB 2018.(foto:infopublik/dok)
Apa pun yang ia lakukan selalu membuatku bergairah. Ia seorang penari tayub. Lenggak-lenggok tubuhnya semakin mengundangku saja. Apalagi parasnya, tak tahan lagi aku. Dari banyaknya ledhek yang ada, entah mengapa mataku selalu tertuju padanya. Ledhek yang paling aku cintai. Namun, ada satu hal yang tak aku sukai. Yakni nasibnya. Nasib ledhek itu yang lahir sebagai pribumi. Orang-orang rendahan sedangkan aku begitu terhormat sebab akulah seorang kolonel. Tentara paling setia Jepang. Ledhek yang tercinta, bersama ini aku sungguh merindukanmu.

Lagi-lagi aku harus meninggalkannya. Aku dalam perjalanan yang panjang. Dari Blora menuju Batavia membuatku terkantuk-kantuk. Aku harus duduk berjam-jam di kereta uap. Tapi tak mengapa. Asyik juga duduk di jendela sembari melihat pekerja paksa yang sedang dicambuk-cambuk. Namanya romusha atau pekerja paksa.

Tak usah merasa kasihan, itu pantas untuk mereka. Dipaksa kerja berat sepanjang hidup mereka. Juga tak usah dikasih hati, hasil kerja itu aku juga yang menikmati. Nasib pribumi sudah tercipta persis begitu. Di sisi lain, nasib itu tak pantas buatmu wahai ledhek yang kucinta.

Perjalanan menjadi membosankan. Entah berapa lama lagi aku berada di sini. Selingan perjalanan ini membuatku semakin mengorek-orek kenangan kita, ledhek tercinta. Waktu itu ada hiburan malam. Wanita-wanita jugun ianfu sedang menari-nari.
***
“Kau lihat itu, Kolonel Takayuki?”
“Penari tayub? Tidak penting sama sekali.”
“Tengoklah. Si selendhang merah.”

Pertama kali aku melihat wajah itu. Betapa duniaku jatuh tertuju untuknya.

Aku pura-pura mengabaikan. Meneguk wine dan menonton dirinya secara diam-diam. Teman-temanku sudah teler dibuat oleh penari-penari tayub itu. Mereka menari-nari dengan wanita yang mereka suka sembari terlihat tak sadar lagi. Memang di antara prajurit-prajurit itu, akulah yang terhebat. Siapa pun pribuminya, tak akan berani denganku. Walau begitu, tengah malam itu hatiku luluh juga karenanya. Si selendhang merah.

Malam sekali. Mungkin sudah pagi. Dentuman gamelan mulai redup. Anak buahku terlihat tak sadarkan diri. Dengan pertunjukkan tayub inilah mereka sedikit terhibur dari rasa rindu anak istri yang jauh di negeri sana. Sebelumnya hiburan ini tak berarti apa-apa bagiku sebab aku tidak punya siapa-siapa untuk dirindukan. Aku belum menikah. Bawahanku lainnya menyebutku berhati batu. Meski begitu ternyata anggapan itu terpatahkan malam ini.

Kulihat ia bergegas pergi. Terbukti dengan olesan kecantikan di wajahnya yang mulai pudar. Selendhang merahnya pun sudah dimasukkan ke dalam tas. Aku menghampirinya saat tiada yang melihat.

“Mau ke mana kau?”
“Maaf, Tuan. Hamba ingin pulang.” Ia terkejut dan takut sekali. Pandangannya ditundukkan ke bawah. Setahuku, itu budaya Jawa untuk menghormati yang diajak bicara. Persetan dengan itu semua. Aku ingin menatap wajahnya baik-baik. Maka kupegang dan kunaikan dagunya. Betapa terasa surga melihat paras cantik itu.
“Ikut aku!” Kuperintah ia. Tentu tak berani mengelak.

Aku keluar dari kantor dengannya. Mengajaknya ke pos penjagaan milikku. Di pos itulah aku bekerja. Pos ukuran 3x3 yang biasa untuk berjaga. Tapi malam hari begini terlalu sepi. Tentu hanya ia denganku saja. Malam yang benar-benar aneh, aku bisa merasakan sesuatu yang meluluhkan hatiku.

Dengan sedikit kasar, kudorong tubuhnya masuk ke dalam pos yang agak kecil itu. Ia semakin ketakukan. Tetapi sungguh itu bukan maksudku. Begitu ketakutan sampai-sampai ia memohon ampun. Inilah pertama kalinya aku mencoba menenangkan seseorang dari ketakutan. Sebab biasanya akulah yang senang melihat orang tak berdaya.

“Kulihat kau tidak menari dengan prajurit lainnya.”
“Ampun, Tuan. Ampun.”
“Selama denganku, kau akan aman. Aku berjanji. Janji prajurit Jepang tidak boleh diragukan.”
Kupikir ia sama sekali tidak percaya. Seseorang yang suka menyiksa sepertiku mana mungkin dipercaya oleh seorang gadis yang mungkin masih perawan.
“Aku tidak akan menidurimu.” Kuperjelas janjiku lagi. Sebab seorang jugun ianfu sepertinya kerap kali dimainkan oleh tentara Jepang guna memenuhi hasrat seksual mereka sehingga mereka akan semangat dalam perang. Begitulah rahasia kuatnya tentara Jepang. Terkadang setelah direnggut keperawanannya, jugun ianfu biasa terbunuh. Bukan rahasia lagi, nyawa mereka tidak ada harganya.
Ia terlihat tenang. Juga terlihat tak berdaya. Kududuk di sampingnya sembari mengulang pertanyaan yang sama.
“Kenapa tiada prajurit yang menggodamu?”
“Mungkin hamba terlalu muda dan baru saja menjadi penari. Tak heran bila tiada prajurit yang bersedia kukalungkan dengan selendangku atau berjoget denganku.”
“Berjoget?” aku bertanya istilah baru itu. Karena memang aku belum terlalu mengerti bahasa di sini. Apalagi budaya yang pribumi punya, sangat unik dan terkadang meninggalkan kesan yang mendalam.
“Menari, Tuan.”
“Oh begitu. Katakanlah sesuatu yang belum kutahui. Bahasa memang unik.”
“Ledhek.”
“Apa itu?”
“Penari, Tuan.”
Sejak itulah kukenal istilah ledhek. Namun, dari banyaknya ledhek yang ada, ialah yang paling sempurna.
“Tarian tadi memang bagus. Kau boleh pulang.”
“Benarkah itu, Tuan?”
“Hati-hati. Jangan heran bila kutemui kau di lain hari.”

Keheranan melanda wajahnya. Di malam itu aku bingung apa yang telah kulakukan. Apa benar ada perasaan lain yang datang tiba-tiba? Kenapa tiba-tiba?

Kupersilakan ia pulang. Aku heran dengan tindakanku ini. Mana pernah kubiarkan pribumi pergi begitu saja. Apalagi biasanya mereka mati di tanganku dan berdarah-darah. Tapi, penari itu. Bukan, bukan. Ledhek itu berbeda. Matanya terlihat begitu tulus dan dalam penderitaan. Andai saja kubisa membebaskan penderitaan itu. Tapi aku hanya seorang tentara, bukan jenderal apalagi Tuhan.
***
“Tiketnya. Tiket.” Suara minta-minta itu mengejutkanku.
“Tidak. Ini perjalanan dinas.”
“Baik, Kolonel.”

Bawahanku itu langsung terdiam. Mereka takut aku marah dan menodongkan senjata. Sebab akhir-akhir ini kemarahanku suka meluap-luap.
Kulihat sekitar. Lampu bohlam telah menyala-nyala. Sudah petang ternyata. Selingan perjalanan tadi sama sekali tidak menyadarkanku. Mungkin aku hanya bermimpi tentangnya.

Anak buahku yang lain sedang asyik bernyanyi. Lagu-lagu kebangsaan Jepang jadi penghibur mereka. Memang inilah tentara Jepang. Penuh dengan kesetiaan untuk negara. Nyawa kami pun sudah tidak ada artinya lagi demi negara. Jepang, bagaimana pun caranya, aku bersumpah akan memenangkan perang ini.

Kimigayo wa (semoga kekuasaan Yang Mulia)
Chiyo ni, yachiyo ni (berlanjut selama seribu, delapan ribu generasi)
Sazare-ishi no (sampai kerikil)
Iwae to narite (berubah menjadi batu karang)
Koke no musu made (hingga diselimuti lumut)

Iringan lagu kebangsaan itu membuatku bernyanyi juga. Bagaimana pun juga aku seorang tentara Jepang. Kesetiaan terhadap negara ada betul dalam hatiku. Hidup dan hatiku hanya untuk Jepang. Tapi, lama kelamaan lagu-lagu itu membuatku bosan. Ah, perjalanan ini terlalu panjang. Bayangan-bayangan tentang ledhek itu selalu melintas. Keadaan ini menyiksaku perlahan. Lalu kualihkan pandangan ke jendela lagi dan lagi.

Terlihat para romusha itu masih bekerja. Mereka begitu kurang gizi. Bajunya pun hanya sebatas karung goni. Namun, bagiku itu adalah hiburan. Menyaksikkan mereka tersiksa adalah kebahagiaan tersendiri. Menderita dan berdarah-darah. Dan lagi selingan perjalanan ini membawaku ke perasaan masa lalu.
***
“Kutunggu kau di pos setelah pesta nanti selesai.” Pesanku terhadap ledhek yang paling kucinta itu.
“Baik, Tuan.”

Pesanku itu kusampaikan padanya ketika aku telah selesai mengunjungi rumahnya. Tepatnya sebuah gubuk. Ternyata betul ia dalam penderitaan yang mengenaskan. Lantas aku yang mencintainya tentu kuberi segalanya. Mulai dari makanan yang enak, baju yang pantas, pembebasan orang tuanya, hingga pembebasan dirinya sebagai romusha. Sudah kubilang, aku punya kekuasaan di daerah kecil ini. Lagi pula siapa yang mau bekerja di Blora? Daerah terpencil.

Malam ini kantor penjagaanku mengundang wanita penari. Inilah yang kutunggu-tunggu. Ketika gamelan berdendam keras, aku pun semakin antusias. Para penari itu melenggok-lenggok sesuai iringan gamelan. Gerakannya begitu serasi. Jiwaku terpanggil-panggil. Akhirnya kuberani menghampiri ledhek yang kucinta itu sembari menari-nari mengikuti irama. Ketika mendekatinya, bau wangi tubuhnya membuatku bersemangat. Tak lupa kuselempitkan beberapa lembar uang Jepang di korset ledhek itu. Ia pun mengalungkan selendhang merahnya di leherku. Kami saling menatap bahagia.

Setelah pesta itu selesai, kebahagiaan belum berakhir. Aku dengannya menuju pos. Kami berbincang-bincang.

“Tarian Tuan tadi bagus sekali.”
“Tak mungku, kekasihku.”
“Kekasih? Jadi kita sepesang kekasih?”
“Ya bila kau ajariku tari tayub.”
“Mengapa?”
“Sepertinya tarianku yang paling kaku.”
Dia tertawa. Ia mulai memegang tanganku dan mengajari menari. Tanpa iringan musik, kami sungguh serasi sekali. Saling mengisi satu sama lain. Pegangan tangannya begitu erat. Tubuh kami begitu dekat. Lalu kami berpelukan.
“Aku akan membuatmu aman.”
“Bagaimanapun juga pribumi tidak pernah merasa aman, Tuan.”
“Aku kekasihmu dan aku mencintaimu.”
“Saya pun demikian, Tuan.”
“Kau tahu? Aku punya tarian yang lain.”
“Apa itu, Tuan?”
Aku meraih tangannya. Kudekatkan tubuhku dengannya. Sangat dekat. Seperti sepasang kekasih yang serasi. Kami berpelukan sangat lama. Dalam pelukan itu kupuji-puji dirinya. Kecantikan, kelembutan, dan kepiawaiannya menari membangkitkan hatiku yang sempat membeku.
“Dengarlah, ledhek yang paling kucinta ....”
Dia menertawaiku.
“Tarianmu adalah surga bagiku.”

Kemarin malam begitu indah. Betapa perasaan ini mengubahku. Bahkan terkadang perasaan ini membuatku lupa bahwa aku sedang jatuh cinta kepada seorang pribumi. Suatu hal kebetulan yang terlarang. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan, berharap status-status sosial itu bisa lenyap.

Hari itu hadir dimana aku perlu memilih dua pilihan yang tak pernah teringinkan untuk hadir. Pagi yang mungkin sedikit cerah, kuperhatikan pekerjaan para romusha betul-betul. Hati masih terasa biasa saja.

Suara hentakan kaki tiba-tiba menganggu telingaku. Tak pernah ada perasaan aneh, tetapi hanya saja aku yakin pasti ada saat ketika aku terhadapkan oleh dua pilihan.
Anak buahku yang datang bertiga itu berteriak-teriak. Tanda ada sesuatu yang ganjal.

“Kolonel Takayuki, kami telah menangkap penghianat.” Seorang anak buah menghampiriku di kantor.
“Bawa aku ke sana!”
Aku menyusuri pinggiran rel kereta yang belum jadi. Rupanya para romusha begitu keras membangun rel sepanjang 90 km itu. Setelah beberapa meter berjalan terlihat seorang wanita yang sudah terikat tangannya. Kepalanya pun tertutupi karung goni yang sudah digerogoti rayap.
Seorang yang dikira penghianat itu adalah dirinya. Seorang ledhek yang amat kucintai. Lantas bibir ini bisa apa?
Dengan penuh kepura-puraan aku mencoba bertindak sebagaimana kolonel semestinya.
“Apa yang dia lakukan?”
“Di rumahnya kutemui makanan-makanan enak, perhiasan, dan baju bagus. Kurasa ia telah mencuri, Kolonel.”
“Apa hakmu memasuki rumahnya tanpa perintahku?”
Aku tidak bisa berucap apa-apa. Tanpa perintah, anak buah bawahanku itu menodongkan pistol di kepala gadis itu.
***
“Kolonel Takayuki? Kita telah sampai.”
“Ah ya. Tarian itu terbayang-bayang di kepalaku.”
“Kolonel? Segeralah turun.”

Tarian tengah malam itu jadi yang terakhir. Masih kupandangi jendela kereta yang sudah berhenti. Kusadari sesuatu bahwa aku masih menjadi seorang tentara yang paling setia di dunia.

Karya : Ala Dira Azira
Juara I Lomba Cipta Cerpen CDB 2019