Barongan "Dalam Sastra"

Signifikansi religius lama dari Singa-barong (di Blora: Barongan) dan cara mereka ditampilkan dalam parade atau arak-arakan, tercatat oleh sastra Jawa lama tentang Topeng Raksasa ataupun Barongan. Namun, sayangnya, jumlahnya sangat sedikit. Dalam karya sastra Jawa dari era Islam, semisal Serat Tjabolang / Centhini, tidak begitu bisa diuraikan. Tetapi dalam literatur yang lebih tua, terutama di Nagarakartagama, ada beberapa frasa yang memberikan informasi awal dan penting tentang pertunjukan Barongan.

Singkatnya informasi itu, dapat dikatakan bahwa Singa-barong lebih merupakan tampilan dari masyarakat yang lebih rendah kastanya. Simpulan ini dapat ditemukan di Nagarakertagama dalam pupuh 86, bait 1:

akara rwang dina muwah ikang karyya kewwan narendrawawwan lor ning pura têgal anama ng Bubat kaprakasa Srinathangkën mara makahawan sthana singhapadudwan sabhrëtyanorakën idëran atyadbhuta ng wwang manonton.

Terjemahan ini, menurut Dr. Pigeaud, aralah: Dua hari kemudian ada upacara meriah, di mana Raja harus menjadi perwira, ia harus mengunjungi tempat lapang bernama Boebat yang terkenal di sebelah utara kraton. Beliau selalu pergi ke sana (setiap bulan Cétra), mengambil jalan di tempat di mana singa berkelahi, menjatuhkannya, berputar mengelilingi raksasa, ramai dilihat penonton.

Singa itu nampak bukan singa nyata yang sengaja didatangkan. Singa bukan hewan asli di Asia Selatan atau di Kepulauan: mereka seharusnya diimpor dari tempat yang sangat jauh. Yang paling mungkin adalah bahwa singa harus dipahami sebagai singa-barong, sehingga berarti sejumlah raksasa, pembuka acara prosesi kerajaan. Pertunjukan seperti itu di dalam prosesi pernikahan masih umum; sampai waktu lama kemudian.

Yang terpenting adalah, dalam naskah Nagarakêrtagama, terdapat adanya pertunjukan Singa-barong (Barongan), terjadi di perayaan Cétra, kelanjutan dari perayaan di bulan Palguna. Beberapa informasi selanjutnya dari Mpu Prapanca, adalah adanya permainan peperangan, berlokasi di lapangan Boebat.

Di dalam koherensi antara manusia dan alam, sehubungan dengan pemikiran kuno, semua ini mungkin masih memiliki pengertian yang jelas pada waktu itu. Terkait dengan permainan peperangan, pikiran-pikiran ini tidak sepenuhnya dilupakan bahkan sekarang; di sana-sini di desa-desa mereka secara teratur disimpan pada kesempatan panen padi.

Sayangnya ini adalah kasus dengan sangat banyak masalah seni, moral dan kebiasaan di masa lalu. Sehubungan dengan ini bahwa pertunjukan Barongan di masa lalu ditampilkan berada di daerah-daerah diantara orang-orang sederhana, yang secara tema dan kegunaannya hanya akan menjadi diluar kebiasaan lingkungan Keraton. Kemungkinan ini berlaku juga di zaman kuno. Sehingga tidak mengherankan bahwa para penulis istana terpelajar, yang sebagian besar telah menulis sastra Jawa, diam tentang hal itu.