SAMIN – SPIRIT BLORA


I. Sekilas Samin

Samin atau Sedulur Sikep sebagai suatu komunitas, keberadaannya masih cukup eksis di Jawa Tengah, terutama di Blora. Samin mulai dikenal luas masyarakat Blora pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20. Dipelopori tokoh bernama Samin Surosentiko (1859 – 1914) berkelahiran Ploso Kediren, Randublatung, sebagai bentuk perjuangan masyarakat pribumi melawan ketidakadilan dan kapitalisme kolonial Hindia Belanda di Jawa. Ini menandakan bahwa kelompok Samin mempunyai andil yang cukup besar dalam mewujudkan cita-cita kebangsaan Indonesia.

Selama kurang lebih 30 tahun, ajaran Samin berkembang pesat di daerah selatan wilayah Blora dimana pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda mencoba menggantikan pertanian dengan perkebunan jati. Bentuk perlawanan menentang penjajah dilakukan dengan tidak menggunakan pertumpahan darah, gerakan Samin tidak memakan korban seorang pun, namun berbekas dalam laporan-laporan resmi Belanda. Yang menjadi menarik, adalah bahwa komunitas Samin mampu bertahan melampaui krisis tahun 1930 dan pendudukan Jepang, dan secara tak terduga masih eksis sampai sekarang.

Pada kenyataannya, stigma negative masih melekat dengan kata Samin, yang diartikan sebagai orang yang “nyeleneh”, sehingga saat ini mereka menggunakan istilah “sedulur sikep” untuk menamai komunitasnya. Sedulur sikep mempunyai ajaran-ajaran tertentu yang mempengaruhi dan menjadi pola pokok perilaku mereka, seperti prinsip kerukunan dan prinsip kejujuran. Sedulur Sikep atau Samin dipandang mampu mewakili semangat dasar dan identitas kultural masyarakat Blora yang sudah teruji mampu bertahan sampai sekarang.

II. Sejarah Samin

Encyclopedia van Nedherland indie, menyebut Samin Surosentiko lahir di desa Ploso Kediren, Randublatung, Blora, pada tahun 1859. Nama asli Samin Surosentiko adalah Raden Kohar, anak dari Samin Sepuh atau Surowijoyo sebagai anak kedua dari lima bersaudara (laki-laki semua). Versi dongeng rakyat, Surowijoyo atau Samin Sepuh bersama saudara seperguruannya, Naya Sentiko atau Naya Gimbal (seorang prajurit Pangeran Diponegoro) pasca Perang Diponegoro (1825 -1830) mulai mengungsi dan bertempat tinggal di desa Sumber Wangi (diperkirakan dukuh antara Sumber dan Kradenan) untuk mencari penghidupan dan menyamar sebagai pertani.

Pada waktu itu, di luar suku samin, istilah Samin merupakan sebutan turun temurun yang ada di lingkungan desa, bagi seorang petani yang tak mengenal dunia luar. Suku Samin nampak tertutup sebagai sekelompok masyarakat petani buta huruf, lugu dan “ngoko” yang memiliki lingkungan terbatas hanya komunitasnya saja. Dalam versi dongeng rakyat yang lain, kata Samin muncul jauh sebelum Samin Surontiko ada, tepatnya ketika masyarakat di lembah Sungai Bengawan Solo. Pola pemukiman samin mengelompok dengan berderet mengikuti alur pematang sawah.

Semenjak kecil Kohar dididik oleh ayahnya sendiri tentang riwayat, mitos dan legenda-legenda Jawa, ia sangat menyukai petuah-petuah leluhur, menjiwai lakon-lakon wayang terutama lakon Pandawa. Kohar lantas dianggap oleh warga desa sebagai Bima (Werkudara), yang kedua dari Pandawa. Ia memiliki sifat-sifat seperti Werkudara: selalu berbahasa jawa ngoko, namun dalam hatinya jujur, murah hati, luhur dan sabar.

Diusia yang masih tergolong remaja, Raden Kohar telah ditinggalkan ayahnya dan kemudian mendapatkan julukan Samin Anom oleh pengikutnya.Raden Kohar kemudian baru menyadari tentang seluk beluk ayahnya bahwa dirinya adalah dari seorang keturunan priyayi yang tidak setuju dengan kehidupan kerajaan yang penuh intrik politik penjajah, sehingga mengasingkan diri bergabung dengan petani untuk memperoleh ketengan jiwa.

Kohar tidak termasuk petani yang miskin, ia memiliki sawah seluas 3 bau, ladang 1 bau, dan 6 ekor sapi dan menempati rumahnya sendiri, dan oleh karena itu wajib membayar pajak atas kepemilikan. Walau tidak tergolong petani miskin, tetapi karena merasa sebagai seorang anak didik suku Samin yang kerap dianggap nyleneh, lalu membuang gelar Raden pada namanya dan mengganti namanya dengan nama Samin Surosentiko.

Samin menemukan konsep sederhana tentang spiritualitas yang dianggapnya paling murni, yang kemudian dinamakan Agomo Adam. Inti dari konsep ini adalah, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah manifestasi dari urip/hidup atau suksma. Urip bisa menjadi apa saja (wujud), dan pada dasarnya hanya terbagi jadi dua, pertama adalah wong, dan yang kedua adalah sandang pangan. Wong (manusia) memiliki posisi paling tinggi di dalam kedudukannya karena bisa menurunkan wong dan menghasilkan sandang (pakaian) dan pangan (makanan). Dalam wong terdapat dua jeneng (jenis), yaitu lanang (laki-laki) dan wedok (perempuan). Tempat wong berada, entah itu di Blora atau Randulatung adalah hanyalah sebutan, tetapi pada kenyataanya wong hanya berada dalam satu tempat saja, yaitu di atas tanah tempatnya berdiri (dunia). Wong bisa memiliki banyak aran (nama), seperti Suto atau Noyo. Kenyataannya setiap jenis atau banyaknya nama, ataupun banyaknya wong, adalah kosong tanpa adanya pangucap / ucapan. Sehingga dalam ajaran Samin Surosentiko, untuk dapat menjadi wong Jowo, yang paling utama adalah dengan menjaga lisan atau ucapan dengan jalan netepi janji lan kukuh waton, dan menjauhi kata bohong, tindakan malas, mencuri, berzina, melakukan sabar trokal yang berarti harus bersikap sabar, diam jika dihina, jangan lagi meminta uang atau makanan kepada orang, tetapi jika ada orang meminta, sebisanya berikan.

Berumur 30-an tahun Samin Surosentiko mulai keluar dari wilayah komunitasnya dan mulai membagikan ajaran-ajaran samin kepada orang-orang sedesa dan desa-desa sekitarnya.

Sesekali ia berani keluar dan berinteraksi di desa-desa, itu dia jalani dalam rangka “tapa ngrame”. Pada tanggal 7 Februari 1889 selepas acara sedekah bumi terlihat berdiskusi dengan banyak penduduk di lapangan Bapangan, Menden. Pesannya berupa petuah-petuah dan penjelasan tentang ajaran Agomo Adam, dan disampaikan dengan bahasa ngoko dan sederhana sehingga siapa saja yang mendengarnya akan mudah menerimanya. Tetapi rupanya orang-orang mulai mengidolakan dirinya sebagai Ratu Adil tanah Jawa yang akan mengentaskan kesusahan-kesusahan mereka.

Konon, ia melakukannya setelah berulang kali bertapa dan mendapatkan “wahyu” bernama Jamus Kalimosodo. Nama “Kalimasada” memang dikeramatkan oleh banyak orang Jawa terutama di pedesaan, daya magis kalimat ini tampaknya mampu menjadi pemersatu semangat kolektif kaum petani dan masyarakat pinggiran yang waktu itu dilanda kesengsaraan dan ketidakadilan. Bukan tanpa sebab, rupanya Jamus kalimasada itu sendiri memiliki banyak arti dari berbagai sudut pandang mistis dan religi, yang kesemuanya mewakili sifat-sifat sempurna yang patut dicari keberadaannya. Dalam kisah pewayangan Jamus Kalimasada merupakan pusaka Puntadewa (Pandawa) di Amarta yang paling ampuh untuk melawan Kurawa. Secara etimolgi, Jamus Kalimasada berasal dari rangkaian kata: Jamus, Kali, Maha, Usadha. Kata jamus berarti hitam berkilau, jamus/jamas berarti perbersihan, kata Kali dapat diartikan sebagai Jaman Kali / Jaman kegelapan, kata Maha artinya besar atau utama, dan kata Usadha/osadha berarti obat. Dengan demikian rangkaian kata Jamus Kalimasada dapat diartikan pembersihan / obat utama dari keburukan jaman kegelapan. Sementara itu, ada yang menafsirkan dari sudut pangang Islam, “Kalimasada” berasal dari kata kalimat syahadat.

Tahun 1890, saat hendak perjalanan “tapa ngrame” di desa Kamolan, disanalah Samin Surosentiko mengenal tokoh spiritual dari desa Klopoduwur bernama Mbah Engkrek. Mbah Engkrek dikenal sebagai sesepuh desa Klopoduwur, yang memiliki wawasan luas tentang ilmu kejawen dan bersikap semanak, tidak membeda-bedakan tamu yang datang dirumahnya. Samin Surosentiko merasa yakin memiliki tunggal penemu dengan Mbah Engkrek saat ber- tukar kaweruh tentang ajaran-ajaran Samin.

Di kesempatan berikutnya, Samin Surosentiko dengan berjalan kaki mengajak anak dan menantunya, Karsiyah dan Surokidin untuk bertemu dengan Mbah Engkrek, pertemuan ini sebagai pertanda bahwa mereka pada hakikatnya adalah sedulur yang saling mengerti dan saling memberikan bantuan dengan istilah “Duwekmu yo Duwekku, Duwekku yo duwekmu”, dan juga sebagai sarana ngumpulke balung pisah.

III. Pergerakan Samin

Ketertarikan orang-orang untuk mendengarkan ajaran Samin Surosentiko, disebabkan karena berbagai faktor pendukung, diantaranya faktor kesamaan keinginan sebagai masyarakat desa untuk terbebas dari penjajah Belanda. Gerakan Samin memang tampak tak jauh berbeda dengan berkembangnya ajaran kebatinan lainnya yang tidak mengganggu keamanan sehingga tidak mendapatkan respon serius dari Belanda.

Protes atau perlawanan yang dilakukan oleh Gerakan Samin biasanya dalam laporan resmi pemerintah kolonial dikategorikan sebagai lijdelijk verzet, artinya sebagai protes yang sabar dan tenang, sebagai perlawanan tanpa kekerasan. itulah sebabnya menurut S. Hurgronje, protes mereka dibandingkan dengan protes-protes kaum tani lainnya merupakan protes yang paling tidak berbahaya.

Perlawanan yang dilakukan oleh kaum Samin terhadap pemerintah Kolonial Belanda menggunakan cara-cara tanpa kekerasan. Salah satu model perlawanan kaum Samin yang terkenai adalah boikot terhadap pajak. Kaum Samin menolak pajak dengan mengatakan, "Wong Sikep tak kenal pajak." Pajak merupakan sesuatu yang asing bagi mereka. Orang tua dan simbah-simbah mereka tidak mengenai hai itu. Mereka bahkan yakin bahwa penarik pajak adalah orang jahat. Ketika ditanya mengapa dulu mereka biasanya membayar pajak, dengan ringan mereka menjawab, "Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang". Bisa dibayangkan bentuk perlawanan seperti ini membuat marah dan jangkel pegawai pemerintah yang harus menarik pajak dari mereka. Namun anehnya kaum Samin tetap melayani mereka, walaupun akhirnya barang-barang mereka habis disita negara. Mereka tidak mengenal paksaan dan kewajiban untuk membayar pajak. Menyerahkan uang atau tidak kepada negara lebih merupakan keputusan bebas mereka.

Protes kaum Samin yang unik itu juga ditujukan pada lembaga-lembaga dan peraturan-peraturan desa lainnya. Menurut kaum Samin, desa tidak memiliki hak untuk memaksa tugas apapun kepada mereka. Seandainya mereka tidak bisa menghindari tugas yang diberikan desa, maka mereka mengungkapkan protes dengan tingkah laku provokatif yang absurd sekedar agar perintah terpenuhi. Di lain pihak, juga terjadi bahwa mereka melaksankan tugasnya tanpa istirahat dan makan sehingga harus diperintah supaya menghentikan pekerjaannya. Pegawai-pegawai pemerintah kembali kebingungan menghadapi tindakan kaum Samin yang berada di luar perhitungan mereka. Sebaliknya, kaum Samin merasa hal itu sebagai sesuatu yang wajar, karena bukanlah mereka harus membuat para penguasa menjadi tenang.

Cara perlawanan lain yang digunakan kaum Samin adalah kesalahpahaman yang disengaja terhadap perintah-perintah. Di samping perlawanan langsung, ada juga tingkah laku yang mengungkapkan tuntutan-tuntutan tertentu.

Faktor kebijakan kehutanan pemerintah kolonial Belanda yang melakukan penutupan hutan jati, menjadi salah satu sebab timbulnya perlawanan rakyat Samin. Daerah yang dihuni kaum Samin adalah daerah hutan jati yang terbaik di pulau Jawa. Pada tahun 1920, kira-kira 40% di kabupaten Blora adalah hutan jati. Melihat tingginya nilai kapital pada hutan jati yang ada di daerah itu, pemerintah kolonial sejak abad ke-19 membuat wilayah itu menjadi industri kehutanan. Kayu jati dari daerah itu pernah menjadi mutu terunggul di dunia dengan nama merek dagang Java-teak. Pemerintah mengadakan eksploitasi Intensif di daerah itu dan menutup hutan bagi penduduk yang hidup di pinggiran hutan. Kaum Samin merasa bahwa hutan adalah warisan nenek moyang mereka seperti dirumuskan dalam ajaran mereka: "Lemah pada duwe, banyu pada duwe" (Tanah, air, dan hutan adalah milik semua"). Maka mereka mengadakan perlawanan, ketika hutan yang juga milik mereka, tiba-tiba dinyatakan tertutup bagi mereka yang jelas-jelas hidup di pinggiran hutan.

Tanpa malu-malu kaum Samin mengambil kayu untuk kebutuhan mereka dari hutan, meskipun secara hukum mereka dianggap mencuri. Akan tetapi mereka merasa tidak bersalah dan mengingkari bahwa telah mencuri, karena bukankah mereka mengambil dari hutan alamiah yang tidak dimiliki siapapun. Alasan mereka itu bukan tanpa dasar. Pemerintah memang mengadakan pembedaan antara "opslag cultur", artinya hutan primer alamiah dan "nieuwe cultuur", artinya hutan yang ditanami pemerintah. "Seandainya saya mengambil kayu dari hutan yang ditanami pemerintah, maka saya mencuri. Tetapi saya tidak mengambil kayu dari hutan yang ditanami pemerintah, maka saya juga tidak mencuri apa-apa, "kata kaum Samin dan mereka merasa tidak bersalah. Pemerintah kolonial waktu itu, melalui polisi kehutanan berbuat sewenang-wenang untuk menghukum yang dianggap sebagai "pencuri" kayu. Inilah yang memicu protes mereka melawan pemerintah.

Yang mengagumkan dari segala model perlawanan tanpa kekerasan yang dilakukan oleh kaum Samin tersebut adalah kesabaran mereka. Sering kali pejabat desa atau polisi desa kehilangan kesabaran mereka, karena kaum Samin memiliki kesabaran yang luar biasa. Kaum Samin tidak mengeluh dan membiarkan para pejabat pemerintah melakukan apa saja, termasuk kalau mereka mengambil harta milik mereka. Orang-orang Samin itu memilih diam saja atau bertingkah laku seolah-olah mereka tidak mengerti apa-apa, ketika polisi menanyai mereka. Kalau mereka suatu saat harus berbicara, maka jawabannya pasti membuat merah muka para pejabat itu. Dalam penjara mereka bertingkah laku yang berbeda dengan para tahanan lainnya. Mereka tidak membuat masalah dengan para penjaga dan menanggung hukuman mereka dengan kesabaran yang luar biasa. Dalam diri mereka nampak bahwa jiwa ilmu Samin, yakni nglakoni sabar (bertingkah laku sabar) masih hidup.

Di samping faktor-faktor ekonomis, faktor sosial dan politis juga menjadi faktor kaum samin untuk bergerak. Faktor sosial tersebut adalah disintegrasi sosial yang dialami kaum Samin, ketika dominasi kolonial memasuki kehidupan sosial mereka dan merusak nilai-nilai dan ikatan-ikatan tradisional yang selama ini menjadi pilar-pilar hidup mereka. Asisten Resident Tuban, J.E. Jasper dalam laporannya tentang pergerakan samin menyatakan, "dapat dikatakan secara umum bahwa pengikut Gerakan Samin bingung dan jengkel (pegel) menghadapi segala perubahan yang telah masuk ke dalam desa dan telah ditusukkan kepada penduduk desa ketika mereka merasa tidak ada lagt Ikatan dengan nilai-nilai yang membentuk tatanan desa yang sama.

Sedangkan faktor politis yang memuncuikan Gerakan Samin, adalah ketidakberdayaan politis kaum Samin, dalam menghadapi birokrasi negara yang semakin menonjol. Politik etis telah mendatangkan banjir kriteria-kriteria, lembaga-lembaga, dan pajak baru yang meningkat di desa-desa. Hal ini biasanya menimbulkan perasaan tidak berdaya dan kecewa kepada penduduk lokal seperti yang direfleksikan oleh ramalan kaum Samin "bahwa pada suatu hari rakyat akan harus membayar bea untuk memandikan ternaknya, menguburkan orang meninggal, atau menggunakan jalan-jalan umum”.

Agama Adam

Gerakan Samin merupakan suatu fenomena sosial yang kompleks, yang mendapatkan sumber dan daya kekuatan dari apa yang disebut sebagai Agama Adam. Perhatian pada Agama Adam akan lebih banyak membantu orang untuk memahami gerakan Samin daripada pendekatan ekonomis (baik "ekonomis moral" muapun "ekonomis politis") yang biasanya digunakan untuk memahami gerakan protes kaum petani.

Siapa yang dimaksud dengan Adam? Di mana dia? kaum Samin akan menjawab pertanyaan itu demikian, "Saya Adam. Dia ada dalam diri saya." Jadi Adam diambil sebagai prinsip kemanusiaan yang universal. Artinya, setiap manusia adalah Adam dan dihidupi oleh Adam. Dalam Agama Adam setiap manusia Itu sami (sederajat dan sama). Dengan keyakinan itulah mereka menentang lembaga-lembaga sosial yang membuat manusia terbagi menjadi atasan dan bawahan. Protes kultural mereka ini terungkap dalam penolakan mereka terhadap penggunaan bahasa Jawa yang mengenai tingkatan basa ngoko (bahasa yang kasar) dan basa krama (bahasa yang sopan dan halus). Kaum Samin secara sadar berbicara dalam basa ngoko kepada setiap orang dengan tidak memandang kedudukannya dalam masyarakat seperti yang biasanya dilakukan oleh orang Jawa yang normal. Mereka menggunakan kata kowe juga untuk berbicara dengan pejabat pemerintah, termasuk bupati dan residen. Tuntutan bahwa manusia itu sama dan sederajat, tidak hanya diungkapkan oleh kaum Samin melalui penggunaan bahasa, namun juga dalam tingkah laku dan tindakan mereka. Dalam pergaulan dengan para pegawai kolonial mereka tidak lagi memperhatikan aturan sopan-santun yang biasa. Mereka memperlakukan orang Belanda seperti teman yang sederajat.

Salah satu ajaran Agama Adam yang berbunyi "Lemah pada duwe, banyu pada duwe, kayu pada duwe". Artinya, tanah air, dan kayu (hutan) adalah milik semua manusia dan setiap manusia memiliki hak yang sama atas kekayaan alam itu. Dunia orang Samin sangat terbatas, yakni "hanya" desa mereka. Apa yang terjadi di luar itu, mereka tidak tertarik. Mereka menolak otoritas pemerintah, karena otoritas bagi mereka hanyalah kekuasaan atas rumah, keluarga, warisan, dan tanah. Ajaran Agama Adam memberikan penghargaan yang tinggi pada kesatuan sosial yang kecil seperti rumah tangga. Ajaran itu menolak otoritas dan birokrasi regional dan nasional yang modern dan mengidealkan komunitas desa yang terisolasi, otonom, dan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Inilah yang membuat gerakan orang Samin dinilai sebagai gerakan reaksi defensif terhadap kapitalisme dan usaha untuk menegakkan kembali struktur-struktur pra kapitalis yang dulu pernah menjamin keadaan baik mereka. Agama Adam bisa diinterpretasikan sebagai suatu reaksi defensif melawan kapitalisme kolonial. Kaum Samin untuk menolak otoritas pemerintah kolonial dan membangun kembali suatu kebersamaan desa atau sami-sami dengan "kesederhanaan pedusunan"

Ajaran dasar Agama Adam seianjutnya yang berbunyi, "Wongsikep weruh theke dewe' (Orang sikep tahu apa yang menjadi miliknya) ajaran ini justru menunjukkan "egoisme" kaum Samin. Sesuai dengan ajaran dasar ini, kaum Samin memang menolak untuk ikut serta daiam kegiatan bersama di desa mereka. Hanya milik mereka (tanah, isteri, dan anak-anak) yang harus dipelihara. Itulah sebabnya mereka tidak mau bekerja untuk yang lain dan di tanah yang bukan menjadi milik mereka. Ajaran dasar yang kedua ini tidak dapat dijelaskan hanya sebagai reaksi "defensif melawan perembesan politik etis di dalam komunitas desa yang akhirnya mengekspioitasi rakyat. Ajaran ini merupakan pengakuan kepercayaan Agama Adam yang berisi semangat individualisme. Fenomena keseluruhan dari gerakan samin ini hanya dapat dilihat, jika kita memahaminya sebagai suatu gerakan yang memiliki falsafah hidup religius seperti nampak dalam Agama Adam.

Hal ini misalnya dalam pemahaman tentang sikep yang memiliki peranan penting dalam Agama Adam, sikep dipahami sebagai "memeluk seorang perempuan". Itulah sebabnya kaum Samin menyebut istrinya sebagai sikep dan dirinya sendiri sebagai wong sikep (orang yang memeluk). Kedua pengertian itu bagi mereka memiliki suatu konotasi seksual yang jelas. Jika dalam suatu kalimat kaum Samin berbunyi; "wong sikep tak kenal pajak atau kerja bakti", maka ungkapan Ini sekaligus merupakan sindiran akan satu-satunya "penyerahan dan pengabdian" yang mereka selalu siap, yakni "pelayanan malam" untuk isterinya. Bagi kaum Samin, isteri dan keluarga harus ditempatkan di atas segalanya. Agama Adam menjadi perlindungan bagi apa yang harus dijaga di atas segalanya, yakni keluarga mereka. Namun keluarga juga menjadi kubu pertahanan melawan setiap otoritas lain yang mau menguasai dan menundukkan keluarga petani. Itulah sebabnya kaum Samin tidak mengakui otoritas yang lain di luar isteri dan keluarga mereka. Bukan pemerintah yang harus menerima "semua pajak", "semua pengabdian", dan "segala ketaatan" mereka, melainkan isteri dan keluarga mereka.

Motif-motif tertentu dalam Agama Adam seperti nampak dalam ajaran-ajaran dasar di atas, menurut SIndhunata, adalah dasar dan tanah bagi kaum Samin untuk hidup dan bekerja sebagai petani. Dari motif-motif tersebutlah mereka hidup dan mengalami kesuburan alam yang tidak dapat mereka ciptakan sendiri. Mereka meletakkan kekinian kekuatan dan kekuasaan dalam motif-motif itu. Mereka mengalami kesuburan alam itu lebih sebagai kekuasaan adi-kodrati dan magis. Mereka memuja dan bahkan "mengillahikan" kesuburan alam ini. "Allah" semacam itu tidak dapat dicapai. Meskipunbegitu dia memanifestasikan diririya dalam semua yang bisa diartikan sebagai kesuburan seperti kehidupan seksual laki-laki dan perempuan. Dari sinilah seksualitas manusia memperoleh dimensi "religius" dan "magis"-nya. Pandangan ini merupakan dasar bagi Agama Adam. Selanjutnya, menurut SIndhunata, pandangan kaum Samin ini dikaitkan dengan pemujaan Lingga-Yoni dalam budaya Hindu yang diyakini oleh orang Jawa (termasuk kaum Samin). Melalui pengaruh budaya ini kehidupan seksual menjadi simbol bagi kesatuan antara Yang lllahi dengan manusia. Manusia menclta-citakan dan memohon kesatuan itu. Di dalam kesatuan itu manusia dibebaskan dari segala yang menghalangi dan membusukkan eksistensinya sebagai manusia. Maka dia dapat menemukan dirinya dalam keadaan bebas. Dalam kebebasan inilah keberadaan manusiamencapai kepenuhannya. Kebebasan adalah hakikat dari Agama Adam. Menurut Sindhunata, kaum Samin mempertahankan dan menjaganya sebagai credo religius mereka. Dengan bertitik tolak darinya mereka hidup dan mendemonstrasikan kebebasan mereka itu dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah sumber batiniyah, asal dari tindakan dan perlawanan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kebebasan batiniah Ini merupakan "kriteria bagi kemungkinan" bahwa mereka dapat mempertahankan secara kokoh perlawanan mereka.

Pada 1 Januari 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa di kabupaten Blora bagian selatan dan kabupaten Bojonegoro yang berbatasan langsung dengan wilayah Blora Selatan, terdapat 772 pengikut Samin yang tersebar di 34 desa. Warga desa dari Ngawi dan Grobogan banyak yang datang untuk belajar Samin. Pada tahun 1906, Karsiyah dan Surohidin menyebarkan ajaran Samin di wilayah Rembang bagian selatan. Satu tahun kemudian pengikut Samin melonjak menjadi 3.000 penduduk. Munculah rumor bahwa pada tanggal 1 Maret akan terjadi “pemberontakan” oleh Samin Surosentiko dan pengikutnya. Rumor itu terdengar oleh Controleur - pembantu Asisten Residen wilayah Blora.

Isu yang didengar didasarkan informasi adanya keyakinan penganut Samin bahwa di awal bulan suro (14 Februari 1907), akan munculnya jaman baru, jaman dimana tidak ada pajak yang harus dibayar dan dapat mengambil kayu hutan. Samin Surosentiko dianggap sebagai pemimpin mereka, yakni pemimpin negara berkeadilan di Jawa, sebelumnya Samin Surentiko diangkat oleh pengikutnya di desa Bapangan sebagai Ratu Adil Tanah Jawa atau Ratu Adil Heru Cakra dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Dan setelah Jum’at pahing, 1 Maret 1907 Samin Surosentiko dan pengikutnya akan menjadi orang yang sakti dan berkuasa.

Resident Rembang tidak menanggapi dengan serius isu tersebut, tetapi Asisten Resident Blora menganggap serius dan mulai merencakan penangkapan terhadap Samin Surosentiko. Empat puluh hari sesudah pengukuhan Ratu Adil tersebut, Samin Surosentiko ditangkap oleh Raden Pranolo, Ndoro Seten (Asisten Wedana) Randublatung di sebuah acara slametan di Kedungtuban tanpa melakukan perlawanan. Samin ditahan di bekas tobong pembakaran batu gamping. Sehari sesudah itu dia dibawa ke Rembang untuk proses interogasi, kemudian dia bersama delapan pengikutnya yakni Kartogolo, Renodikromo, Soerjani, Soredjo, Singo tirto dibuang ke luar Jawa dan pada tangal 2 September 1914, Samin dikabarkan meninggal di Kota Tengah, Padang.

Ditangkapnya Samin Surosentiko tidak mematikan gerakan Samin. Pada tahun 1908 Wongsorejo giat menyebarkan ajaran Samin didekat kota Madiun. Segera dia ditangkap dan dibuang bersama dua orang kawannya. Dia mengaku telah mengajarkan untuk tidak membayar pajak dan menolak kerja rodi. Selanjutnya pada tahun 1911 Surohidin, menantu Surosentiko dan murid Mbah Engkrak menyebarkan ajaran Samin di daerah Kabupaten Grobogan, sementera Karsiyah, murid yang lain menyebarkan di Kajen, Pati.

Gerakan Samin ini mencapai puncaknya pada tahun 1914, dimungkinkan karena naiknya pajak pemerintah Hindia Belanda. Di Grobogan kaum Samin tidak mau lagi menghormati pemerintah. Tindakan ini bahkan mendapat dukungan dari beberapa aparat desa. Di waktu hampir bersamaan, seorang bernama Projodikromo di wilayah utara Madiun mengajak penduduk untuk memperdaya petugas pajak. Di wilayah Kayen, Pati, Karsiyah menamakan dirinya Pangeran Sendang Janur, mengerahkan penganutnya untuk melawan, mengajak penduduk Larangan untuk tidak membayar pajak, mereka sempat melawan petugas yang berusaha menangkap mereka, tetapi akhirnya ditangkap dan dipenjara di Pati.

Gesekan dengan Pemerintah Belanda terakhir tercatat terjadi di desa Tapelan, Bojonegoro yang sejak tahun 1890 terdapat pengikut Samin. Pada tahun 1914 mereka mulai menolak membayar pajak, bahkan mereka berani mengancam Asisten Wedana. Akan tetapi kemudian mereka ditangkap dan dipenjara.

Walaupun terjadi beberapa perluasan di daerah baru seperti di Undaan, Kudus pada tahun 1916, namun jumlah pengikut Samin pada saat itu mulai menurun. Pada tahun 1917 terdapat 2.305 keluarga Samin, termasuk 1.701 di kabupaten Blora, 283 di Bojonegoro, dan sisanya di Pati, Rembang, Grobogan, Ngawi, dan Kudus.

IV. Ajaran dan Pokok Pikiran Samin

Pada awalnya ajaran samin bersumber pada nilai-nilai universal yang tumbuh di kalangan suku Samin. Suku Samin memiliki bahasa yang unik dan sederhana, mengenal konsep kehidupan yang sangat menekankan adanya keseimbangan / kerukunan dan tidak terpaku pada suatu aturan formal yang ketat. Mereka menganggap lelaku/tindakan adalah konsep utama ibadah keagamaan. Mereka hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin di wilayah keluarga dan komunitasnya. Konteks lain terlihat bahwa mereka termasuk penerus ajaran agama Brahmanik (Monotheisme) yang permisif, dalam artian menerima secara selektif terhadap semua ajaran agama yang dibawa kaum migran (Hindu, Budha, Islam, Nasrani dan lainnya) selama mempunyai konteks yang sama dengan ujung Monotheisme.

Suku samin percaya daya Adikodrati (Yang Maha Pencipta) yang pertama menciptakan segala sesuatu, bersifat sangat cuci dan tanpa nama sehingga dalam penyebutannya suku samin memakai kiasan-kiasan yang sederhana, seperti “Sing gawe urip” atau seperti istilah “tan kena kinaya ngapa”. Sang Maha Pencipta sangat sakral sehingga menurutnya semua bentuk aran tidak berlaku bagiNya.

Suku samin tidak mengenal adanya surga atapun neraka, sebuah dunia yang mereka belum pernah melihatnya, dan belum pernah diceritakan oleh leluhurnya. Baginya kehidupan adalah sekarang, ditempat ini, “biyen biyen, saiki saiki, sesuk sesuk”, mereka hanya fokus mengerjakan kebaikan di saat sekarang dan untuk sekarang, menjauhi bentuk larangan leluhur di saat sekarang dan untuk sekarang. Besok adalah panen tentang apa yang ditanam sekarang. Jika mati, toh mereka akan tetap hidup, karena mereka percaya “urip iku sepisan selawase”, kematian hanyalah sebuah siklus kehidupan. Seakan menunjukkan ciri dari konsep waktu khas masyarakat tatanan agraris, yaitu suatu waktu yang tidak berubah dan seakan-akan terbayang “dalam kaca cermin”.

Ajaran Samin awalnya dikembangkan oleh Samin Surosentiko secara verbal dan menggunakan bahasa jawa ngoko dengan istilah kondo-kondo, dilakukan secara intensif kepada pengikutnya, sebagai bagian dari tradisi mereka. Sikap-sikap tersebut tercemin dalam berbagai ucapan, ungkapan-ungkapan yang memiliki nilai keluhuran. Ada ucapan-ucapan yang sering dimulculkan dalam kehidupan yang merupakan perwujudan nilai-nilai luhur ajaran Samin.

Seperti contoh berikut :

“Agama iku gaman, adam pangucape, man gaman lanang”

Agama adalah senjata, pegangan hidup. Orang samin tidak membenci agama, oleh karena itu, orang samin tidak mengingkari atau membenci agama. Bagi kaum samin, yang terpenting adalah perbuatan atau perilaku dalam kehidupan bermasyarakat.

“Nitik nalika lemah gemelar sepisan, iku pancikane adam, mancik pada mancik, nduwe pada nduwe, nanging yen garapan dumunung tek e dewe-dewe”.

Dalam tradisi lisan wong Sikep yang sederhana, setidaknya ada tiga angger-angger (etika) yang harus diikuti yaitu angger-angger pratikel, angger-angger pengucap, serta angger-angger lakonana.

“Aja drengki srèi, tukar padu, dahpèn, kemèrèn. Aja kutil jumput, mbedhog colong”. Maksudnya, wong Sikep dilarang memiliki sifat dengki (membenci orang lain), berperang mulut, iri hati terhadap orang lain, berkehendak memiliki hak orang lain. Selain itu, wong Sikep juga dilarang mengambil milik orang lain tanpa ijin dari yang punya.

“Lakonana sabar trokal. Sabaré diéling-éling. Trokalé dilakoni.” Maksudnya, Wong Sikep senantiasa diharapkan ingat pada kesabaran dan serta kesabaran itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi segala permasalahan, prinsip kesabaran dan ketabahan dalam menyelesaikan masalah menjadi acuan utama. Di lain sisi, selalu menempatkan segala bentuk kebahagiaan maupun kesedihan sebagai bagéan (sesuatu yang harus diterima).

Konsep ajaran Agomo Adam yang dibawa Samin Surosentiko bisa dikatakan suksesor ajaran Samin terdahulu yang telah ada di Blora, dilandasi suatu keyakinan dan keinginan untuk kembali ke tatanan masyarakat terdahulu yang dianggap sebagai masa keemasan, masa dimana leluhur Jawa (Amarta) berkuasa di tanah Jawa. Samin Surosentikomengklaim bahwa sebenarnya Wong Jowo adalah orang yang telah melakukan Agomo Adam. Dengan doktrin rasional “Manusia pertama di Jawa adalah Wong Jowo”, muncul kesadaran diri dari pengikutnya untuk mencari kemerdekaan hakiki, terbebas dari belenggu peraturan Penjajah. Kemerdekaan pada dasarnya adalah dari diri sendiri dan bukan dari orang lain, Samin Surosentiko yakin kemerdekaan bisa diraih dimulai dari laku dan pemahaman diri pribadi dalam bentuk perkataan yang jujur. Jika semua orang sudah merdeka, gotong-royong merupakan tradisi bagi orang-orang yang mendambakan sebuah kerukunan.
 
V. Perkawinan dalam masyarakat Samin

Menurut ajaran Samin, perkawinan adalah wadah prima bagi manusia untuk belajar, karena melalui lembaga ini mereka dapat menekuni ilmu kesunyatan. Bukan saja karena perkawinan nanti mebuahkan keturunan yang akan meneruskan sejarah hidup, tetapi juga karena sarana ini menegaskan hakikat ketuhanan, hubungan antara pria dan wanita, rasa sosial dan kekeluargaan, dan tanggung jawab.

Pada dasarnya adat perkawinan yang berlaku dalam masyarakat Samin adalah endogami, yakni pengambilan jodoh dari dalam kelompok sendiri, dan menganut prinsip monogami. Dalam pola perkawinan ini yang dipandang ideal adalah isteri cukup hanya satu untuk selamanya:

bojo siji kanggo sak lawase, becik kawitane becik sak teruse, sing biso misahke mung pati, koyo dene Adam ora bakal pisah karo Siti Hawa nganti sak patine salin sandangan.

Sebagai landasan berlangsungnya perkawinan, adalah kesepakatan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita. Kesepakatan ini merupakan ikatan mutlak dalam lembaga perkawinan masyarakat Samin.

Inti dari prosesi pasuwitan adalah ikrar laki-laki di hadapan kedua orang tua si gadis tentang kesungguhan hatinya untuk menjalani hidup sebagai suami istri. Dalam prosesi ini, bahasa Jawa yang dipergunakan adalah ngoko dan kromo. Hal ini berbeda dari kebiasaan sehari-hari yang menggunakan bahasa Jawa ngoko. Kalimat yang dipergunakan sederhana dan lugas, tidak mempergunakan metafora sebagaimana dalam prosesi perkawinan Jawa lainnya yang cenderung mempergunakan metafora dalam pengungkapannya. Selain itu, si laki-laki juga mengucapkan sendiri kehendaknya, tanpa diwakili oleh orang lain, yang kemudian dijawab langsung oleh bapak dan ibu si gadis. Ikrar dan jawaban tersebut berfungsi sebagaimana akad nikah dalam tradisi perkawinan umat Islam.

VI. Pakaian

Pakaian sedulur sikep atau suku samin, berupa baju lengan panjang tanpa kerah, berwarna hitam. Memakai ikat kepala (iket atau udeng) untuk laki-laki, dan kebaya lengan panjang, berkain lurik sebatas di bawah tempurung lutut atau di atas mata kaki untuk perempuan.

Hal itu sesuai ajaran “Gadung lurik angger wis seneng yo uwis”, memakai gadung atau kain lurik kalau sudah senang ya sudah.

Warna hitam adalah warna yang memuat segala warna, hitam juga merupakan simbol pribadi yang memiliki keleluasaan, kedalaman, dan kerendahan hati. Iket atau udeng merupakan simbol ngiket mengikat laku, pikir dan hati supoyo mudeng, agar tahu maknda dan tujuan hidup, urip.

VII. Bahasa

Orang samin yang tinggal dimanapun menggunakan bahasa Jawa ngoko atau lugu, yaitu bahasa Jawa yang sederhana atau bersahaja. Mereke tidak mau mempelajari dan menggunakan bahasa selain bahasa Jawa. Menurut pemikiran sedulur sikep, orang jawa harus berbahasa jawa, karena tidak patut orang jawa berbahasa asing. Para sedulur sikep masih menganggap bahwa orang asing adalah penjajah.

Mereka tidak mengenal tingkatan bahasa jawa seperti bahasa jawa krama, bahasa jawa madya dan bahasa jawa ngoko. Dalam ajaran samin, siapapun adalah sama, sederajat, tidak membeda-bedakan, semua adalah sedulur.


VIII. Samin Sekarang

Kehidupan samin tentu sudah berbeda dengan keadaan awal ketika ajaran itu disebarkan oleh Samin Surosentiko. Sekalipun masyarakat samin berusaha mempertahankan tradisi, namun tidak urung pengaruh kemajuan zaman juga mempengaruhi mereka. Mereka menyesuaiakan dengan perkembangan zaman yang ada sekarang. Seperti, warga samin sekarang sudah sadar dengan pendidikan, menuntut ilmu dengan bersekolah, mendukung program pemerintah, dan juga membayar pajak bumi dan bangunan. Jika dahulu masyarakat samin dikenal sebagai pembangkang, penolak pajak, maka saat ini mereka merupakan warga yang sadar dengan pajak, terbukti adanya penghargaan dari kantor pajak kabupaten Blora yang mengakui bahwa masyarakat samin merupakan pembayar pajak nomer satu.

Untuk masalah kependudukan, warga samin sekarang juga aktif untuk memiliki Kartu Tanda Penduduk, dan juga pengisian kolom agama pada KTP, walaupun kadang memang masih ada yang belum sepenuhnya mengikuti program tersebut. Berkenaan dengan pernikahan, memang ada kaum samin yang masih menggunakan tata cara perkawinan adat, tetapi ada juga yang sudah mengikuti perkawinan tata pemerintahan pemerintah yaitu dengan mendaftarkan pernikahan ke Kantor Urusan Agama.

Perwujudan angger-angger pratikel, angger-angger pengucap, serta angger-angger lakonana, masih mereka pegang teguh. “Aja drengki srèi, tukar padu, dahpèn, kemèrèn. Aja kutil jumput, mbedhog colong”. “Lakonana sabar trokal. Sabaré diéling-éling. Trokalé dilakoni.” Sebagai pedoman untuk senantiasa ingat pada kesabaran dan serta kesabaran itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi segala permasalahan, prinsip kesabaran dan ketabahan dalam menyelesaikan masalah menjadi acuan utama. Tradisi dan nilai-nilai luhur sebagai kearifan lokal pada masyarakat suku samin yang diwariskan secara turun temurun dengan lisan tetap menjadi pegangan hidup mereka.

Budaya samin sudah diakui dan bahkan ditiru oleh masyarakat sekitar. Baju samin yang dikenakan suku samin sekarang digunakan sebagai seragam Pegawai Negeri Sipil dan pemerintahan. Hal tersebut dilakukkan sebagai penghargaan pemerintah terhadap masyarakat samin terhadap nilai-nilai luhur samin.
 
IX. Kampung samin

Perkampungan sedulur sikep samin berada di beberapa wilayah di kabupaten Blora. diantaranya adalah di dukuh Karangpace desa Klopoduwur, dukuh Blimbing desa Sambongrejo, dukuh Tanduran desa Kemantren, dukuh balong desa Sumber, dukuh Bapangan.

Dari perkampungan samin tersebut mempunyai ketua adat masing-masing yang menjadi panutan bagi mereka. Penagajaran itu dilakukan untuk memegang teguh ajaran sikep agar tetap terus ada dalam diri mereka walaupun tetap masih mengikuti teknologi dan sistem sosial yang berkembang sekarang. Mereka tidak dapat memungkiri untuk mengikutinya, tetapi dengan tetap memegang teguh prinsip sikep.

a. Sedulur Sikep Klopodhuwur

Perkampungan sedulur samin sikep di dukuh Karangpace desa Klopodhuwur berbatasan langsung dengan wilayah hutan perhutani. Sebuah papan penunjuk ke arah kapung samin terpasang di jalan utama antara Blora Randublatung. Memasuki perkampungan ini, akan menyusuri hutan sebagai pembukanya. seterusnya kita akan bertemu dengan pendapa samin yang digunakan sebagai tempat bertemu atau berkumpul berdiri di tengah perumahan para sedulur sikep.

Pendapa dengan pelataran yang luas biasa digunakan oleh para anak-anak sedulur sikep bermain.

kondisi perkampungan masih relatif perdesaan dengan kesederhanaan yang dapat kita temui ketika memasuki perkampungan sedulur sikep Klopoduwur. Dengan jarak yang hanya 7 (tujuh) kilo meter dari ibu kota kabupaten, menjadikan perkampungan samin ini sering dikunjungi para wisatawan, bahkan presiden Joko Widodo pernah menyambangi para sedulur sikep Klopo duwur. Komunitas ini masih memegang prinsip samin sebagai ajaran yang terus dilaksanakan oleh mereka.

b. Sedulur Sikep Blimbing Sambong

Kampung samin dukuh Blimbing desa Sambongrejo kecamatan Sambong, terletak kurang lebih 25 Km dari ibu kota kabupaten Blora. sama halnya dengna kampung samin Klopoduwur, kampung samin Sambong ini letaknya memasuki daerah hutan. Perkampungan samin ini relatif asri, tertata rapi, dan bersih. Para penganut ajaran sikep ini juga masih memegang teguh ajaran Samin Surosentiko, walaupun sudah lebih bisa menerima teknologi.

Para masyarakat samin Sambong mempunyai potensi yang sudah dikembangkan dengan dukungan oleh pemerintah daerah, diantaranya adalah batik samin. Potensi kerajinan batik di kabupaten Blora yang tumbuh dan berkembnang sejak tahun 2009, kini semakin maju dan beragam. tidak hanya dilkukan leh pengusaha dan UMKM, tetapi kerajinan yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian dalam menyanting ini juga dilakukan oleh para sedulur sikep samin dukuh Blimbing. Komunitas kerajinan batik tulis “sekar blimbing” pimpinan ibu Warsiyam, istri dari mbah Pramoegi sesepuh sedulur sikep samin, merupakan langkah pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di sela-sela kesibukan bertani dan sebagai ibu rumah tangga.

Batik dengan corak dan motif yang khas sedulur sikep ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan atau pengunjung yang datang ke kampung samin. Warna hitam menjadi warna yang identik kita temui pada batik samin.

c. Sedulur Sikep Mbalong Kradenan

Berkunjung ke kampung sedulur Sikep samin Balong Desa Sumber Kecamatan Kradenan, disambut Jalan gang yang tidak beraspal dan ditumbuhi rumput di kanan kiri jalan. Bentuk rumah yang hampir seragam, dengan pagar kayu yang apa adanya dan bahkan tidak berpagar merupakan potret kesederhanaan mereka. Bantuan dan program pemerintah yang dialokasikan untuk sedulur sikep ditolak dengan halus. Mereka tidak mau dianak emaskan dengan diberikan bantuan. Sebagai warga negara semua sama, tidak perlu dilebih-lebihkan. Aturan-aturan yang ada dalam kehidupan masyarakat sedulur sikep tidak dalam bentuk tulisan atau bentuk-bentuk yang disahkan, melainkan berasal dari nasehat yang atau petuah yang orang tua berikan pada anaknya.

Masyarakat sedulur sikep juga sangat ramah kepada masyarakat luar termasuk pada kita yang sedang datang berkunjung ke desa mereka, mereka sangat terbuka pada kita, dan menyambut kita dengan senyuman, hati yang damai dan wajah yang sangat bersahabat, masyarakat sedulur sikep hidup sederhana, sopan-santun dan berkarakter yang baik. Begitu memasuki rumah salah seorang ketua sedulur sikep, kita akan langsung tahu siapa yang kita datangi, dengan menyebutkan "pengaran" (nama sebutan) dan akan ditanya juga siapa "pengaran" kita. Demikianlah lazimnya warga Balong desa Sumber Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora memperkenalkan diri.

Sedulur sikep dukuh mBalong juga sangat peduli terhadap lingkungan alam itu terlihat dari perjuangan masyarakat sedulur sikep dalam menolak pembangunan pabrik semen, menurut masyarakat setempat pembangunan perusahaan semen tidak dapat dilakukan karena akan merusak lingkungan seperti perairan, sawah dan ladang. Dukuh mBalong Sumber Menden di Kabupaten Blora memang berbeda dengan pedukuhan lain. Sebagian besar warganya bermata pencaharian petani. Lahan yang subuh didukung oleh air yang cukup menjadikan desa mBalong panen padi setahun 3 kali. Di desa mBalong ini hidup kelompok masyarakat sedulur sikep samin dengan kesahajaan dan kesederhanaanya. “Orang Samin” atau sedulur sikep punya konotasi dan perlakuan khusus bagi orang di luar lingkungan ini. Mereka lebih "opo anane" terbuka dan menjaga lisan dari ucapan yang tidak sesuai dengan keadaan menurut penafsiran mereka. Sesekali orang Samin bisa juga berlagak bodoh, atau bersilat lidah dengan logika khas mereka, untuk mempertahankan sikap yang mereka yakini benarnya – terutama di masa-masa silam.

d. Sedulur Sikep Tanduran kedungtuban

Sedulur Sikep di Tanduran dulunya tidak mengenyam pendidikan formal dan tidak suka menyekolahkan anak-anaknya, uniknya mereka selalu mengatakan bahwa anak-anaknya sudah belajar sejak kecil. Salah satu pengertian belajar yang di pahami adalah bekerja, bagi mereka hidup semata-mata hanya untuk bekerja, prinsip tersebut yang melatar-belakangi orang tua Sedulur Sikep selalu mendidik anak-anaknya bekerja untuk membantu orang tuanya sendiri kelak ketika sudah berkeluarga bisa hidup mapan, “kabeh kanggo sopo bakale kowe sing nduwe” (semua harta nantinya juga akan diberikan kepada anak-anaknya), Pola pengasuhan berupa motivasi itu cukup efektif dan cukup berhasil sehingga mampu mempengaruhi anak-anaknya.

Bekerja sudah mempunyai makna belajar atau sekolah. Sementara anak juga mempunyai harapan besar kelak akan mendapatkan harta dari hasil kerja kerasnya tersebut ketika sudah berkeluarga. Kerja keras selalu diajarkan oleh semua agama dan melarangnya pada umatnya untuk meminta-minta.

Demikian pula apa yang di lakukan oleh Sedulur Sikepdi Kedungtuban Blora bahwa hidup itu harus Trokal Seseorang akan mendapatkan hidup yang layak jika mau bekerja dengan bersungguh-sungguh. Implementasi ajaran agama Adam adalah sebuah penghayatan keyakinan yang mengajarkan bahwa jika seseorang tidak bekerja keras berarti mengabaikan perintah Tuhan. Usaha seseorang agar bisa hidup bahagia salah satunya adalah tentu tercukupinya kebutuhan pokok yaitu sandang, pangan dan papan. Untuk mendapatkan makanan salah satunya harus bekerja.

Perlu disadari bersama bahwa masalah terbesar dalam pendidikan kita adalah karena tidak adanya kebijakan yang berkelanjutan dan berkesinambungan, hal ini menunjukan bahwa sektor pendidikan belum menjadi lokomotif pembangunan nasional. Warga Sedulur Sikep Tanduran dikenal sebagai masyarakat adat, karena mereka mempunyai sistem nilai, ideologi, ekonomi, politik, sosial dan budaya yang selalu mengutamakan keluhuran budi pekerti dan memiliki prinsip urip mung kari nglakoni.